91 HARI
Rindu Nur A. VII B SMP IT Mamba\'ul Ulum

By Administrator 23 Jan 2019, 09:26:06 WIB Tulisan Siswa

 

‘’Cepat!..cepat!..’’,  teriak kakak OSIS itu membubarkan kami yang asyik  bersenda gurau. Ini hari ke- 7 di sekolah ini, SMA favoritku. Seperti sekolah pada umumnya, aku harus mengikuti aturan yang berlaku.

Aku dan kawan-kawanku, entah siapa namanya, ku tak hapal karena terlalu banyak. Kami dikumpulkan untuk berbaris di tengah lapangan. ‘’Gubrakk…..’’,  tubuhku tergeletak di tengah pancaran sinar matahari. “Di mana aku Ibu ?”,  tanyaku heran. ”Tenanglah putriku!! kau hanya terlalu capek”, kata ibu.  Tubuhku terbaring lemah di atas ranjang dan merasakan nyeri di tangan karena infus yang kupakai. Jujur, jika aku tahu akan disuntik mungkin ku ambil langkah seribu. Laariiiii….

Tapi aku heran, dari kecil hingga saat ini, jika aku terlalu lama terpapar sinar matahari,  kepalaku sangat sakit dan rasanya tak kuat menahan rasa sakit ini hingga sering kali kulampiaskan  dengan teriakanku.

‘’Arrrgghhhh………….’’, tiba tiba kepalaku sakit sekali.  “Ibu.. Ibu.. tolong  Riani!! … Yaa Allahhh … saakiittt ….’’, teriakku menjerit kesakitan.

Dokter dan suster telah tiba di kamarku. ‘’Oohhh tidak… haruskah aku disuntik lagi’’, gerutuku dalam hati. ‘’Cuussss……..’’,  suster memberikan obat penenang dan aku pun tertidur.

Setelah tersadar, pandanganku sedikit kabur. Aku bertanya tanya dalam hati, ‘’Ke mana ibuku??.’’ Ternyata ibuku ada di ruang Dokter dari chat yang dikirimnya lewat whats app.

Kunantikan kedatangan Ibu tercintaku. Akhirnya Ibu datang dan mengucap salam, “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam Ibu”, jawabku gembira. ‘’Tapi kenapa yaa..Ibu nampak sedih“, penuh tanya dalam hatiku. ‘’Anakku bersabarlah nak… mungkin Allah telah mengujimu. Kau anak yang kuat. Ibu yakin kau dapat melewatinya nak“, sambil memeluk anak kesayangannya itu. Ibu tak kuasa membendung air mata.  “Apa maksudnya Ibu? aku tidak apa- apa kan bu”, tanyaku dengan nada mendesak. Ibu semakin menangis sesegukan. Terdiam tak kuasa menyampaikan kebenaran tentang penyakit yang menggerogoti putrinya itu. Menurut Dokter, ‘’Riani  mengidap penyakit kanker otak stadim 4 dan umurnya divonis tiga bulan saja .“ Itu hanya perkiraan dunia medis. Tapi yang paling berhak menentukan kematian seseorang hanyalah Allah semata. Dari gesture yang dinampakkan Ibu, aku sudah bisa menebak dan merasakan penyakit apa yang mengidapku. Untuk memastikan hal tersebut, secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu, aku berkonsultasi langsung dengan Dokter yang biasa menanganiku. Aku pun tahu semua tentang seluk beluk penyakitku. Hati terasa remuk padam tak berdaya mendengarkan penjelasan Dokter.

Setelah hampir dua Minggu dalam proses perawatan. Akhinya keadaanku membaik, aku bisa mengikuti kegiatan belajar  di sekolah seperti biasanya. Hari demi hari kulalui dengan senyuman. Sebulan  sudah kulalui. Dengan penuh kesadaran diri, aku memanfaatkan sisa hidupku dengan kebaikan. Semangat dan terus berharap sebuah keajaiban akan datang padaku. Menjalani kemoterapi yang begitu menyiksa membuat helai-helai rambutku rontok.

Meskipun keluar masuk rumah sakit selama dua bulan lebih, aku harus tetap semangat. Ku ukir dengan senyuman indah di wajah kedua orang tuaku. Esok adalah hari pertama di bulan terakhir dalam hidupku. Itu artinya umurku tinggal 29 hari lagi.

Ini hari ke- 15 dalam sisa hidupku. Aku dan teman-teman mengikuti lomba Pramuka Tenda Terkokoh  di Kecamatan dan akhirnya kelompokku mendapat  juara pertama. Sebelumnya, Ibu dan Ayah tidak mengizinkan karena khawatir denganku. Mereka tahu bahwa lomba tersebut termasuk lomba fisik yang menguras stamina. Dengan penjelasan dan semangat yang kunampakkan, mereka memberikan izin.

Saat upacara penutupan lomba Pramuka tersebut, lagi-lagi badanku harus ambruk karena sakit di kepalaku yang hebat. Setelah tersadar, ternyata benar aku ada di rumah sakit. Terbaring lemah dengan infus di tangan kiri. Aku tak takut lagi karena jarum itu sudah terlalu sering hinggap di tubuhku. 10 hari sudah, aku berada di rumah sakit. Aku memaksa Ayah dan Ibu untuk membawaku pulang meskipun kondisi belum begitu membaik karena aku merasa tinggal 5 hari lagi sisa hidupku bersama orang tua yang kucintai . Diagnosa Dokter mengatakan seperti itu.

Akhirnya aku pulang dengan hati bahagia walaupun berbanding terbalik dengan kondisi fisikku. “Ya Allah …. terima kasih karena di dalam sisa hidupku ini telah Kau beri kenikmatan dan kebahagiaan kepadaku’’, ucapku dengan senyum simpul. Semakin hari, kesehatanku semakin menurun hingga hari terakhir hari ke- 90, ku terbangun dari tidurku. Ku ambil air wudu seperti biasanya. Kukenakan mukena putih suci, kubaca niat dalam hati.

Matahari muncul dengan rona memukau, seakan melempar senyuman padaku. “Ya Allah …  aku siap jika hari ini kau cabut nyawaku, semua kupasrahkan pada-Mu Sang Maha Pemilik Kehidupan”, munajatku pada Ilahi Rab.  Pada Siang hari dalam detik-detik penantian ajal, sanubari berkata, ‘’Allah masih belum mencabut nyawaku, mungkin nanti malam.

Malam terakhir penantian, kusucikan anggota badanku dengan air wudu dan beruntai doa, “Ya Allah … jika setelah ini Kau cabut nyawaku maka mudahkanlah sakaratul mautku ya Allah.’’ Esok hari aku masih terbangun. ‘’Subhanallah … Engkau menambahkan nikmat usia padaku. Tepat 91 hari. Allah telah memberi bonus 1 hari untuk hidup di dunia ini.

Malam harinya, tiba-tiba kepalaku semakin sakit tak tertahan. ” Ya Allah .. ampun… jika ini adalah ajalku maka mudahkanlah aku untuk melewati sakaratul maut ini. Ibu… Ayah.. tolong Riani!!, teriakku dengan jeritan pilu.

Ayah tergesa-gesa mengendongku hingga sampai ke ruang tamu. Pintaku, ”Ayah cukup!! Riani tak ingin meninggal di luar rumah ini. Ayah Ibu.. Riani minta maaf jika selama ini sering membuat Ayah Ibu meneteskan air mata karena kekecewaan akan diriku. Terima kasih karena selama ini telah merawat Riani dan mendampingi Riani melawan penyakit ini.Riani  sayang kalian.’’

Ayah dan ibu meneteskan air mata karena tidak percaya ucapanku, “ Sudahlah anakku, Ibu yakin kau pasti akan sembuh. Kujawab, ” Ibu.. Ayah.. Riani sudah tidak kuat lagi dengan rasa sakit ini, Ikhlaskan Riani.” Ibu semakin menangis dengan isakan pilu. Ibu berpesan untuk terakhir kali, ”Anakku Riani.. pergilah nak, pergilah…. Ibu dan Ayah mengikhlaskanmu. Hilangkan semua rasa sakitmu. Anakku … Ibu dan Ayah titip salam untuk Baginda Rasullulah, pergilah nak. Dengan menahan sakit kuucapkan kalimat syahadat, ” Asyhaduu An Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah.” Riani meniggal dalam pelukan Ayah dan Ibu. Usai sudah penderitaan Riani untuk menahan rasa sakit yang dideritanya.

(Rindu Nur A. VII B)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment