CAHAYA DI LANGIT RANTAU
NuhaBanin D.A. VIII B SM IT MAMBA\'UL ULUM

By Administrator 23 Jan 2019, 09:28:34 WIB Tulisan Siswa

Disebuah desa terpencil tepatnya di desa Manako Provinsi Sumbawa. Disana hiduplah seorang anak dan keluarga kecilnya yang sederhana. Anak tersebut bernama Mishel, ia adalah anak yang cerdas, patuh terhadap orang tua, tekun, rendah hati, sabar, pengertian, dan berakhlaq mulia. Keluarga Mishel berkeinginan agar Mishel nanti dapat melanjutkan SMA ke luar negeri. Sampai pada suatu ketika…………

            “Mishel…sini sebentar duduk di sebelah ayah..”, ajak Ayahnya. “Iya Ayah, ada apa…?”, balasnya. “Sekarang anak ayah mau menuju ke jenjang SMA, kamu juga sudah terlihat dewasa nak. Ayah ingin sekali kalau esok engkau lulus SMP, engkau dapat melanjutkan SMA di luar negeri, seperti anak menteri yang sukses itu…?,” ujar ayah memegang pundak Mishel. ”Tapi saat ini ayah dan ibu hanya bisa bermimpi saja karena sekarang kita tak punya cukup uang,’’ sahut Ibu sambil menaruh  gelas kopi ayah ke meja tamu.

            Setelah mendengar kata kata tersebut ekspresi wajah Ayah berubah menjadi sedih. Untungnya Mishel langsung meyakinkan Ayah dan Ibu tentang pendidikannya walaupun ia sedikit ragu untuk menjawabnya, ia pun berusaha untuk membuka mulutnya. ”Ayah…..jangan sedih..!, uang tidak akan jadi masalah, tapi lihatlah esok! anakmu ini akan sekolah di luar negeri sesuai dengan apa yang engkau harapkan,” kata Mishel dengan ragu. ”Apakah engkau sungguh sungguh nak,” kata ayah. “Insha Allah Ayah… jika Allah menghendakinya Ayah,’’  balas Mishel.

            Sore harinya, Mishel merenungkan perkataan yang baru saja ia lontarkan pada Ayahnya. “Tuhan…. sesungguhnya Engkau yang Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segalanya. Tuhan. . . tolong bantu hamba untuk dapat memenuhi keinginan Ibu dan Ayah“, doanya untuk menenangkan pikiran. Mishel pun memutuskan untuk pergi jalan- jalan mencari udara sejuk. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah iklan di mading taman desa yang isinya, “Ikutilah Test seleksi lulusan SMP ke jenjang SMA Internasional, pemenang akan diberi beasiswa full untuk sekolah SMA di luar negeri basic Internasional of World di negara London. Hari Minggu, 23 Maret 2018 di Balai Kota Manako. ”Alhamdulillah ….,”  ujarnya.

            Dengan segera Mishel langsung pulang ke rumah dengan semangat. Sampai di sana,  herannya Mishel tidak langsung memberi tahu orang tuanya tapi ia malah masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. “Braakkkkk…,” bunyinya. “Ada apa nak…,” tanya Ibu. “Tidak bu…..bukan apa apa…?”, jawab Mishel dengan sopan.

            Selama berhari hari Mishel mempersiapkan diri dengan matang tanpa ada satupun orang yang tahu. Ia mempersiapkannya dengan begitu matang. Akhirnya hari yang dinanti telah tiba. ”Ibu,Ayah…. Mishel pergi dulu ya…?,” pamitnya dengan semangat. ”Ya nak, hati-hati!!, doa Ibu dan Ayah selalu menyertaimu. Tapi engkau mau kemana nak…?,” tanya  orang tuanya. Tak sempat menjawab ia pun langsung pergi.

            Sesampainya di sana, Mishel langsung mengerjakan soal-soal karena ia sedikit terlambat, ia pun harus segera bergegas mengerjakan soal-soal tersebut dengan cepat dan teliti agar tidak ketinggalan. 3 jam berlalu, waktupun sudah habis, dengan perasaan pasrah ia mengumpulkan lembar soal dengan hati yang berdebar dan penuh doa di dalamnya,  “Tuhan….aku pasrahkan seluruhnya pada Engkau. Sesungguhnya Engkau yang Maha Melihat atas segalanya.” Setelah menunggu lama akhirnya moment yang paling ditunggu telah tiba yaitu pengumuman hasil test seleksi. Awalnya Mishel sangsi atas usahanya tapi tak disangka ia berhasil mendapat nilai terbaik dalam test seleksi itu. Mishel langsung sujud syukur. Dengan bangganya Mishel memegang trophy dan sertifikat beasiswa di hadapan semua peserta. Ia juga tak sabar untuk menyampaikan berita gembira pada orang tuanya. Ia pulang dengan semangat dengan menggayuh sepedanya. Tapi sesampainya di sana………..

            Apa yang dilihatnya, ia tidak tahu apakah ini mimpi atau nyata?. “Ada apa ini bu..? kenapa ramai sekali di rumah? mana Ayah? siapa yang tidur di situ ?,” tanya Mishel dengan badan dan bibir yang bergetar. Ibu tidak bisa berkata lagi. Beliau hanya terdiam seribu bahasa, terpaku tak berdaya. Dengan tangisan keras Mishel berteriak, ”Tidak mungkin…….Ayah bangun Ayah!!!, lihat ini!, ini yang Ayah inginkan sudah aku dapatkan sekarang, lihat ini Ayah! bangun !!!,  besok anak Ayah ini akan pergi sekolah ke luar negeri Ayah…..Ayah!….Ayah!…..bangun yah..!,” ujarnya sambal menangis histeris memeluk Ayahnya. ”Sudah..sudah..nak ayo istirahat dulu!…sudahlah biar ayah di sana tenang,” ajak ibu sambil menahan Mishel yang sedang menangis walaupun keadaan Ibu juga sama. Tapi beliau menguatkan diri untuk Mishel.

            Keesokan harinya, kondisi Mishel sedikit demi sedikit membaik. Ia pun mengambil kertas putih. Ditulislah di sana sebuah ungkapan hati………

 

 

Surat perjanjian untuk Tuhan                                                                                                 Tuhan…..

Hari ini aku akan pergi untuk memenuhi keinginan Ayah dan Ibu. Ijinkan aku untuk membuatnya bangga dan mengangkat derajat keduanya.

Tuhan….

Jika aku pulang membawa kegagalan sementara, maka tolong beri aku balasan yang dapat menggantikannya.  Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang

Yang berjanji: Mishel

Yang pasti menyaksikan: Allah SWT forever

 

 

 

                                                          

“Nak ayoo berangkat!, travelnya sudah datang,” ujar Ibu. “Iya Ibu…,” jawab Mishel sambil mengusap air matanya. “Bu doakan Mishel ya…! biar nanti Mishel pulang bisa membawa kesuksesan. Jaga diri Ibu baik baik ya…! Aku Sayang Ibu,” pamit Mishel. ‘’Iya nak Ibu selalu doakan engkau. Ingatlah 3 pesan Ibu sebelum engkau pergi yakni Man jadda wajadda,  bersabar, dan selalu berada di jalan Allah’’, pesan ibu kepada Mishel. “ Iya Ibu….”, balas Mishel dengan memeluk erat seakan enggan berpisah dengan Ibunya.

Lama perjalanan 10 jam ke air port Mishel pun sampai di sana. Ia langsung menuju ke loby penerbangan. ”Pak…? di mana penerbangan beasiswa test seleksi pelajar?,” tanya Mishel. ‘’Di sana nak, 20 menit lagi akan berangkat,’’ jawab petugas. Untuk kali pertama ia duduk di kursi pesawat internasional. Mishel pun terlihat sedikit bergembira dan di dalam perjalanannya ia berdoa, “Tuhan….aku ikhlaskan seluruh nafas,hidup, waktu ini untuk mencari ilmu dalam perantauanku, izinkan aku untuk pulang membawa kesuksesan.’’

Setelah 2 jam di pesawat, Mishel sampai di Air Port Internasional of London. Di sana ia disambut oleh panitia beasiswa dan langsung diajak pergi menuju Senor High School of London. Dengan kagetnya ia melihat pemandangan sekitar. Tak kalah kagetnya juga saat ia melihat sekolahan dengan basic Internasional. ”Mishel….this my friend will company you for looking this school and I’am so sorry I can not company you because I will go for my work on this time ?..are you sure Mishel…?,” tanya panitia. ”Yes I sure thank you,“ jawab Mishel. Kakak panitia sibuk karena memiliki pekerjaan di hari ini. Jadi, Mishel ditemani kakak kelas 3 di sana, kak Nadha namanya.

Dijelaskan satu persatu olehnya, sedikit demi sedikit Mishel pun paham. “Sister…. What this school make basic International?,” tanya Mishel. “ Yes… this school make basic International, there this school making a prigress in order to every student from all the world in order to learn in this,’’ ulas kak Nadha. Keesokan harinya, Mishel berangkat ke  sekolah dengan ditemani oleh kak Nadha. Mishel kelas 1 Senior High School dan kak Nadha kelas 3 Senior High School. “Look!! that room is your classroom in there”, tunjuk kak Nadha .”Ohhh,,, thats room, thank you for company me my sister,’’ balas Mishel dengan senyuman kecil.

Saat hari pertama masuk kelas, Mishel sangat terkejut karena kawan lamanya yang dulu pernah sebangku dengan Mishel di kelas 2 SMP, ternyata satu kelas kembali dengan dirinya. Kawannya kaya sedangkan Mishel orang sederhana. Jadi, sikap kawan tersebut terhadapnya adalah seenaknya sendiri. “ Lihat teman!, siapa ini? inikan Mishel anak miskin itu. Ahh…. tak mungkin kamu ada di sini. Tapi, tak papalah, walaupun kamu ada di sini tetap saja kau tak dapat menyaingiku. Hahaha……,” kata kawannya sambil mendorong Mishel. Mishel merasa dirinya rendah, ia pun tidak bisa berkata apa apa, diam sejuta bahasa. Mishel hanya bisa menangis menahan sakitnya luka akibat perbuatan kawannya tadi. Beruntung, kak Nadha segera datang menolong Mishel. Kawan tersebut langsung lari ketakutan melihat kedatangan kak Nadha. ”Maaf…maaf kak…kami tadi hanya bercanda saja,“ ujar sekawan tersebut sambil lari ketakutan. “Mishel kamu tidak apa apa kan ?,” tanya kak Nadha. Dengan terkejut ia mendengar suara kak Nadha yang menggunakan Bahasa Indonesia. “Iya kak, saya tak apa apa kok.   Lho….kakak kok bisa berbahasa Indonesia dan kenapa ia takut lihat kakak?,” tanya Mishel dengan penasaran. ”Ayo ikut kakak ke ruang UKS!, ajak kak Nadha. ‘’Iya kakak bisa berbahasa Indonesia karena dulunya kakak juga sekolah beasiswa di sini, kakak dari Indonesia dan mereka takut karena dulu mereka pernah di keluarkan sebab sudah mengambil buku kakak. Jadi ya setelah kejadian itu mereka semua takut sama kakak…..,” jawab kak Nadha dengan berjalan sambil membawa Mishel ke ruang UKS.  Semenjak hari itu hubungan Mishel dan kak Nadha semakin erat dan mereka juga saling mendukung satu sama lain. Sampai suatu ketika……

“Kakak….sekarang aku takut kak, lihat ini!!! semua bahan uji cobaku untuk ujian praktik hilang dan aku dapat nilai tak sempurna,“ ujar Mishel dengan gelisah. “Dengarkan aku!! terkadang kita hanya bisa pasrah dengan semua takdir Allah, manut sama takdir Allah dek…sudah jangan dipikirkan lagi … kan masih ada kesempatan ke dua ujian praktik formal semi 3,“ balas kak Nadha menyakinkannya. ‘’Tapi kak, aku takut gagal lagi. Kalau aku pulang ke rumah ngak bawa keberhasilan gimana?,” tanya Mishel. “ Percaya sama kakak!! Mishel pasti bisa!!! masalah hasil biar Allah yang tentukan oke?,” balas kak Nadha. ”Tapi kak aku tidak bisa kak …?,”  kata Mishel dengan sedih.

Melihat keadaan Mishel seperti itu kak Nadha teringat dengan sebuah tempat yang dulunya bisa membuat ia sadar akan pentingnnya semangat dalam perjuangan. “Kak ..tempat apa ini…. kok kita pergi ke tempat seperti ini ?,” tanya Mishel dengan penasaran. ”Lihatlah di sana !! Di sana ada sebuah pohon di mana pohon tersebut merupakan satu satunya sumber makanan bagi mereka semua dan di sana, lihat!…. pemukiman kumuh itu dan seorang pemulung…mereka berjuang dan bekerja keras dengan semangat yang tinggi agar mereka bisa menghidupi keluarganya. Walaupun keadaan mereka sungguh sangat memprihatinkan, tapi mereka percaya bahwa suatu saat nanti pasti aka ada kesempatan ke dua untuk memperbaharui kehidupannya. Di sini adalah tempat di mana kita akan belajar dan termotivasi dari mereka semua,“ jawab kak Nadha. ”Iya kak engkau benar … aku juga harus bisa berjuang seperti mereka walau keadaan semakin rumit,“ ujar Mishel. ”Nah sekarang Mishel sudah semangat lagi kan?,” tanya kak Nadha. “Iya kakak … terima kasih …, sebentar lagi mau magrib kak, ayo kita pulang!,” balas Mishel.

Di tengah perjalanan Mishel menyimpulkan dari kejadian hari ini bahwa, “Tuhanlah yang berhak menentukan takdir kita setelah berusaha dan bedoa dan apapun keadaan yang sedang kita alami itu merupakan cara Tuhan untuk mendidik kita agar kita dapat melihat sekeliling kita bahwa tidak harus tak mampu jadi tak mampu terus tapi ingatlah di setiap ketidak mampuan kita pasti Tuhan punya rencana yang lebih indah dari setiap ketidakmampuan dan percaya bahwa di setiap kegagalan adalah cara Tuhan untuk mendidik kita agar kita bisa lebih dewasa lagi dalam menanggapi sebuah permasalahan, kesempatan, dan hal hal lain yang sudah direncanakan oleh Tuhan.’’

Semenjak hari itu, Mishel yang tadinya putus semangat, ia sekarang menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya  dengan berbekal 3 kunci dari ibunya. Akhirnya setelah 3 tahun mendapat pelajaran di luar negeri, Mishel pun dapat kembali pulang ke rumahnya dengan membawa semua bukti keberhasilannya. Seperti membawa sertifikat dan trophy pelajar lulusan terbaik tahun pelajaran 2022-2023 berbasic Internasional di negara London.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment