HIDUPKU TAK SEPERTI HIDUPNYA
Rahma Dwi Novita Sari VII A

By Administrator 23 Jan 2019, 09:37:19 WIB Tulisan Siswa

HIDUPKU TAK SEPERTI HIDUPNYA

(Rahma Dwi Novita Sari VII A)

 

Kringg…!!! (bel sekolah berbunyi). Meski aku tak bisa mendengarnya tapi aku bisa melihat teman temanku berhamburan masuk ke dalam kelas. Sejak lahir aku ditakdirkan sebagai tunarungu dan tunawicara. Alhamdulillah aku masih dapat melihat indahnya dunia. Sejak itu juga pendengaranku adalah penglihatanku. Komunikasiku adalah tanganku.

‘’Se…ma..ngat!! se…ma..ngat!!’’, teriak teman-temanku menghilangkan kesan sepi lapangan sekolah. Aku tahu suasana itu dari raut wajah mereka. ‘’Duukkk……’’, tiba tiba bola basket  itu menghantam pelipis mataku dengan keras. Penglihatanku sekejab kabur dan aku pun jatuh ambruk.

Saat terbangun dari tidur pingsanku. “Ya Allah… Astaghfirullah…mengapa gelap sekali? Hanya hitam yang kulihat’’, sontak hatiku remuk padam tanpa daya. Rapuh yang kurasa. Aku hanya bisa menangisi keadaan kelam yang tiba tiba menabrak hidupku. Kini aku insan yang buta. Nikmat penglihatan yang merekat telah diambil juga oleh Sang Pemilik segala. Aku berbaring tak berdaya,  meratapi keadaan yang serba tak sempurna ini di rumah sakit selama 2 minggu. Usai 2 minggu di  rumah sakit, aku mulai masuk di sekolah yang baru. Yaa…sekolah luar biasa (SLB), yang hanya diperuntukkan untuk penyandang cacat seperti diriku.

Hatiku selalu merenung, seoalah rasa ketidakrelaan terus bersinggah dalam hati, ‘’Mengapa Tuhan tega membuatku seperti ini, untuk apa aku lahir jika aku harus sengsara. Adakah dosa terbesar yang telahku perbuat hingga Engkau tega menyiksaku dalam keadaan yang tak sempurna seperti ini,  sungguh ini sangat tak adil’’. Sejak kecacatan fisikku ini aku selalu merenung dan meratapi. Apa daya aku tak bisa mengucapkan kemarahanku.

Aku pun sudah menentang ayah ibuku jika menyuruhku solat,  karena bagiku apa gunanya aku solat jika aku tetap cacat. Aku sering sekali mencoba bunuh diri tapi selalu gagal.

Hingga suatu saat teman satu sekolahku menghampiri dan member nasihat dengan bahasa isyarat pastinya karena kami penyandang cacat. Dalam bahasa isyarat,  ”Kawan, seharusnya kau tak berputusasa karena kita harus menunjukan pada semua yang sering memandang lemah. Kita bisa menjadi orang yang sukses dan tak perlu kau murka pada Tuhan karena inilah yang terbaik untuk kita.” Hatiku berbicara, ”Memang benar apa yang di katakana temanku, Astaghfirullah ya.. Allah…ampuni khilafku.”

Sontakku menangis sujud dibawah kaki ayah dan ibu. Kuambil air wudu untuk melaksanakan solat taubat. Dalam munajatku, “Ya Allah…Ya Robbi…Ampunilah dosaku, ampunilah kesalahan dalam hidupku. Ya …Allah hamba tahu engkau mentakdirkan hamba seperti ini karena ini yang terbaik bagiku. Engkau mentakdirkan hamba tuli karena Engkau tak ingin hamba mendengar ucapan yang  tak pantas untuk didengar, Engkau mentakdirkan hamba bisu karena Engkau tak ingin hamba berucap  yang tak pantas untuk diucap, dan kini Engkau takdirkan hamba buta karena Engkau tak ingin hamba melihat yang tak pantas untuk dilihat. Yaaa… Allah hamba bersyukur karena ini adalah anugerah terindah dalam hidupku. Yaaa…Allah terimalah taubat hambamu yang lemah ini.’’

Semuanya silih berganti.  Seiring berjalannya waktu ada sepercik cahaya gairah dalam hidupku. Aku yakin rasa itu datangnya dari Tuhan yang dikadokan untukku karena ketulusanku dalam bermunajad kepada-Nya. Dari bekal pembelajaranku di sekolah umum dan sekolah inklusi, aku mulai merambah dunia teknologi untuk membantuku dalam menuangkan inspirasi. Memang tak dapat dipungkiri,  keterbatasan fisik sedikit banyak memengaruhi proses kreatifku. Namun hal itu, tak mengurangi semangat yang mulai hadir dalam diriku. Aku sudah terbiasa menggunakan mesin ketik pada waktu itu.

Sekarang aku sudah menggunakan komputer untuk proses pengetikan ide kretifku. Ada aplikasi yang membantu membaca layar, mengubah teks dalam bentuk suara. Seakan jari-jari ini tiada henti digerakkan oleh kekuatan sang Ilahi Robbi.  Inspirasi dan ide terus bermunculan di otakku, kemudian aku ejawantahkan dalam bentuk ketikan berbahasa estetis penuh makna. Dorongan semangat selalu kuhadirkan dalam tiap kata yang kuketik. Tanpa terasa dari ketikan-ketikan itu terciptalah sebuah  novel hasil karya inspirasi hidupku. Sejak merilis web pribadi, aku mempublikasikan synopsis cerita dari novel yang sudah kuciptakan. Berangkat dari sinilah, ada seorang redaktur yang mengajak bergabung dan sukarela menerbitkan novel garapanku.

Kini semangatku semakin bergelora dalam jiwaku karena esok adalah launching buku novel perdanaku, kisah perjalanan hidupku. Kini ku tak malu lagi dan tak takut untuk mencoba hal baru dalam hidupku. Subhanallah…..sungguh ini adalah anugerah yang Engkau berikan kepadaku. Kini aku dapat menunjukkan kepada semua  yang sering menganggapaku berbeda. Memang benar hidupku tak seperti hidup mereka, tapi kami penyandang cacat juga punya impian yang pasti diwujudkan selama kita tetap berikhtiar dan berdoa kepada Tuhan.

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment