TRANSFORMASI SANG HAWA

By Administrator 23 Jan 2019, 09:33:34 WIB Tulisan Guru

TRANSFORMASI SANG HAWA

( Oleh : Ena Via Narullita )

 

           Perkembangan zaman yang begitu pesat membuat hidup ini penuh tantangan. Segalanya dituntut untuk dinamis sehingga mendatangkan keuntungan, statis pastilah membawa kerugian, dan dekadensi akan mengantarkan kita menuju kehancuran. Prinsip ini tertanam secara permanen dalam pikiran gadis yang beranjak dewasa bernama Bilqis. Meskipun berasal dari keluarga yang keadaan finansialnya cukup menyayat hati, Bilqis tetap optimis dalam mengubah hidupnya menjadi lebih baik. The winner…the winner…never the loser. “Untuk meraih segala kesuksesan perlu adanya proses, instant impossible, you know?”, kata Bilqis dengan tegas. Kemudian obrolan gurau keluar dari mulutnya,”Kalau pengen instant ya.. ngepet aja sana, ngerampok, atau njual diri mungkin ! ”, he 99x. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Jika Tuhan menghendaki, pasti akan terwujud segala keinginan hamba- Nya.

            Melihat fenomena saat ini, tidak hanya kaum Adam saja yang bernafsu untuk meraih gelar kesarjanaan dengan misi memerbaiki taraf hidup, kaum Hawa pun berlomba- lomba untuk meraih hal yang sama. Salah satu celah untuk untuk mewujudkan cita- cita yang tidak hanya sekedar ilusi, Bilqis pun meniatkan hatinya untuk menempuh pendidikan strata 1 di kota terbesar no. 2 di pulau Jawa.

            Kota metropolitan yang penuh hitam putih kehidupan. Tuhan mencurahkan segala nikmat pada umat- Nya. Dengan kondisi finansial yang rendah dan semangat belajar  yang sebaliknya, sanak saudara terketuk hatinya untuk membantu biaya pendaftaran kuliah Bilqis. Dia mendaftarkan diri di PTS dengan mengambil jurusan Elektro sesuai dengan skill yang Ia miliki. Bilqis sengaja menempuh pendidikan di PTS karena jam kuliah yang fleksibel. Selain kuliah, dia juga berniat untuk kerja sampingan demi biaya kuliah selanjutnya.

             Lima meter dari pemakaman umum  yang tampak suram, bersinggah rumah megah dan baru 1 tahun berdiri. Tapi jangan salah, itu rumah paman . Bilqis tinggal bersama beliau, istri, dan anak- anaknya. Bilqis juga tinggal bersama kakak perempuannya. Orang tua Bilqis menitipkan ia pada sang paman sedangkan mereka sendiri tinggal di desa Sajen kec. Wrengen. Di rumah paman,  di kamar tidur yang sudah disediakan untuk Bilqis dan kakaknya, di tempat itulah mereka sering kali beradu mulut. Setiap kali bertengkar, Bilqis selalu menutup pintu kamar rapat- rapat. Bilqis takut pertengkaran mereka sampai terdengar di telinga paman dan bibi. Bilqis bertanya pada sang kakak, “Kenapa sih kita selalu saja bertengkar?”. Terkadang terlintas  pikiran kotor dalam otak Bilqis “Jika saja kakakku adalah suamiku, aku akan minta cerai darinya karena Aku sudah  terlalu bosan dengan semua ini”.

              Sejak awal Bilqis merasa, bibi kurang suka dengan kehadirannya. Tapi Bilqis mencoba membuang jauh- jauh prasangka itu. Hati kecil Bilqis berkata, “Ah…itu hanya bisikan iblis yang sengaja ingin mengganggu pikiranku”. Kalau yang satu ini kenyaaan, para keponakannya sangat jutek dangannya. Mereka menganggap Bilqis hanya penghuni baru di rumah paman. Berbeda dengan sang kakak. Ia sudah lama tinggal di rumah itu. Paman dan bibi sudah mengangap sebagai anak kandungnya. Lagi- lagi Bilqis harus membuang jauh rasa iri yang menyelimuti hatinya. Perlakuan yang berbeda yang membuat ia berontak seperti itu.

              “Melarikan diri, terus ngontrak rumah atau ngekos seperti teman- teman, pasti seru. Tapi aku dapat uang dari mana? ah…cara naif yang hiperbol. Ijazah belum kudapat, jadi aku berkerja seadanya saja. Aku bekerja di kafe brownies sebagai waitress. Mondar mandir ke sana ke mari sambil melempar senyum kemunafikan pada para costumer. Tuntutan profesi yang mustahil untuk dinego. Gajinya ngak seberapa si… tapi capeknya meremukkan tulang. Ah…ngak apa- apalah, yang penting cukup buat biaya hidup.  Orang tuaku tak tahu dengan keadaanku sekarang ini. Batinkku tersiksa, percuma saja aku tinggal di sangkar emas 24 karat tapi  dipenuhi dengan bird monster yang buas. Hi…serem”, kata Bilqis ( sambil mengerutu ).

               Suasana kemunafikan mulai terasa di rumah itu. Indah di luar belum tentu indah di dalam. Bilqis masih bersyukur pada sang Kholiq karena dianugerahi sahabat yang sangat mengerti keadaannya. Perasaan galau lenyap seketika jika Bilqis bertemu dengan mereka. “BilSpark itu nama genk Kami yang terdiri dari saya sendiri Bilqis, Samy, Panca, Ray,  dan Kriz. Biasa…anak muda, there are limited edition, ”kata Bilqis ( sambil meringis ). Selain itu Bilqis memunyai teman yang cukup profesional di organisasi keagamaan yang Ia lakoni. Memang benar ya…terkadang persahabatan itu melebihi ikatan kasih dua manusia.

                 Bilqis mencari jalan keluar dari masalah dan konflik yang melilitnya. Tuhan tidak akan mengganti masalah yang baru, jika kamu belum berhasil mengatasi masalah yang ada. Kamu akan selamanya terjebak pada lubang yang sama. Ambil air wudu, itu cara Bilqis memadamkan api amarah yang bergelora dalalam hatinya, jika Ia bertengkar dengan sang kakak.

 

Nirwana kasihku jauh singgasananya

Ingin kugenggam jiwa dan raga mereka

Muara tuk ungkapkan semua rasapun hampa

Satu jalan menuju ke sana

Kubersujud di atas sajadah hamba

Bermunajat pada sang pencipta

Semakin bibir ini beruntai kata

Semakin hamba larut dalam heningan nyata

Akhirnya…

Hambapun bermukhasaba

Tangis dan pengakuan dosa

Itu yang hamba rasa

Tanpa tahu arti dosa

Nonrefrensial adanya

 

                Seusai sembahyang, Bilqis mencurahkan semua isi hati dan memohon ampunan pada sang Kholiq atas semua prasangka buruk yang selalu menghinggap pada dirinya. “Ya Tuhan…ampunilah kesalahanku. Keadaan yang menjadikan aku seperti ini. Aku sering kali marah pada kakak dan anak- anak pamanku. Aku juga sering memasang wajah muram pada bibiku. Aku khilah Tuhan. Berkali- kali aku memohon ampun pada-Mu, berkali- kali pula aku melakukan kesalahan yang sama. Aku malu pada-Mu Tuhan. Aku sangatttt malu.

***

                Suatu hari, pukul 21.00, Bilqis dan kakaknya bertengkar hebat. Bilqispun menangis dan berkata, “Kak…Aku mau tidur, sebelum aku tidur, Aku memohon maaf padamu. Aku takut jikalau Aku tidur, tiba- tiba malaikat mencabut nyawaku dan Aku belum sempat meminta maaf padamu.

                Kakak Bilqis memang memiliki watak yang keras, sekeras batu dan Ia sedikit tomboy. Tetapi, di balik sifatnya itu, Dia adalah seorang kakak yang pemaaf. Bilqis membuka lembaran baru. Dia memulai introspeksi diri dan seringkali mendapatkan tausiyah dari teman- teman organisasinya. Dari sekian banyak organisasi Dia sangat bersyukur dapat bergabung dalam organisasi keagamaan itu. Menurut Bilqis itu pilihan yang jitu.

                  Sambil menatap langit yang bertabur bintang. Merapatkan deretan jemari. Sejenak hilangkan urusan duniawi. Mengadakan kontemplasi dan menyendiri. Menyaksikan karya agung dari sang maha suci. Spontan rasa kagum terhentak dalam sanubari. Bak batu karang di pesisir pantai. Bagaikan butiran pasir di padang gurun yang penuh arti. Itulah insan di bumi, tampak sangat kecil di hadapan sang pemberi. Setiap manusia jauh dari kesempurnaan. Jika hati  dihantui rasa kebencian yang tak begitu mendalam, maka ingatlah sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Kakak Bilqis sangat royal. Itulah salah satu sifat yang disukai Bilqis  dari kakaknya. Tiada asap jika tiada api. Mereka bertindak demikian pasti ada penyebabnya. Bilqis berusaha menerima karakter sang kakak, bibi, dan para keponakannya. Perang batin telah surut, kakak ditugaskan ke luar kota selama 5 bulan. Di depan pintu sambil membawa koper besar, kakak memeluk erat badan Bilqis. Air mata menetes di pundak Bilqis. Hati Bilqis menangis. Seketika itu, air rona suci membasahi pipinya. Kini… kamar tidur itu sunyi, sepi  tanpa suara. Hanya gurauan cicak yang turut menemani kesendirian Biqis.

Kini aku sedang perang

Melawan rasa yang datang

Bersinggah dalam bentuk bayang- bayang

Akan makna yang tertinggal

Ayo, spirit Bilqis ! Ubahlah anganmu menjadi realitas. Bisikan itu menggetarkan seluruh element insan yang berorientasi bahwa life is transformation for self.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment