KARENA RIDHO-MU
Muhammad Krisna X IPS

By Administrator 23 Jan 2019, 09:39:10 WIB Tulisan Siswa

KARENA RIDHO-MU

(Muhammad Krisna X IPS)

 

Serasa baru saja aku datang ke PondokPesantrenIndukMamba'ulUlum ini, tetapi waktu terus berjalan dan sekarang aku sudah kelas XII MadrasahAliyah, tidak terasa sudah 6 tahun lamanya aku nyantri dan bersekolah di PPIMU ini dan 3 hari lagi aku dan teman-teman seangkatanku akan diwisuda.

    Rasa hati ini tidak menentu entah apa yang membuat hati ini begitu resah, seakan-akan aku takut kalau di rumah tidak bisa apa-apa padahal aku nyantri sudah 6 tahun lamanya.

    Kalau di kelas akulah yang paling bodoh, sudah 6 tahun nyantri tidak bisa nahwu dan shorof begitu juga hafalanku dari pertama kali aku nyantri di PPIMU ini. 1 angkatan dirikulah yang paling lambat serta jelek hafalannya. Aku pun sampai iri kepada teman 1 angkatanku dari dulu sampai sekarang ia memang pintar dan daya hafalannya cepat dan bagus.

    Ketika pelajaran sekolah formal ataupun sekolah pondok aku selalu memperhatikan guru yang mengajar dan apabila disuruh mengerjakan bisa atau tidak, aku berusahamengerjakan semampuku meskipun hasilnya tidak memuaskan. Jika pembagian rapot hasil nilai ujiankulah yang paling jelek dan dirikulah yang mendapat peringkat terakhir dari dulu sampai sekarang.

    Di kamar yang paling rajin dan sering membersihkan kamar adalah aku. Pernah suatu ketika temanku berkata kepadaku "Lo itu sok sibuk dan sok pintar, tiada gunanya semua perbuatanmu itu", tuturnya padaku.

    Akupun tidak menghiraukan perkataannya dan hanya senyum tanpa menjawab perkataannya.

    Seketika itu aku teringat ucapan guruku. "Sebodoh-bodohnya orang tetapi ia masih punya tata krama dan adab itu lebih baik daripada orang pintar tapi tidak punya tata krama dan adab." Itu sebabnya aku tidak menghiraukan kalau aku ini anak yang paling bodoh 1 angkatan.

    Motivasiku yang membuat aku bertahan di PPIMU ini berasal dari guru Sejarah Islam di dalam ceritanya terkandung hikmah yang membuatku termotivasi.

    Seperti cerita salah satu ulama' yang bernama IbnuHajarAl-Asyqolani, beliau nyantri sudah sangat lama tetapi tidak membuahkan hasil kemudian beliau meminta izin kepada kyainya.

"PakKyai saya mau boyong karena sudah lama saya nyantri tidak ada hasilnya".

Pak Kyai pun terenyum dan menjawab "Wahai muridku janganlah engkau putus asa dalam mencari ilmu tapi jika itu kemauanmu terserah dirimu tapi jika engkau mau kembali pintu pesantrenku masih terbuka untukmu."

    Kemudian IbnuHajar pergi meninggalkan pesantren kyainya tersebut. Di tengah perjalanan beliau berteduh di dalam gua di karenakan ada hujan deras. Di dalam gua tersebut ada sebuah tetesan air yang mengenai batu. Lama-kelamaan batu itu berlubang akibat terkena tetesan air tersebut.

    Kemudian IbnuHajar berpikir kalau batu saja terkena air yang wujudnya cair bisa berlubang apalagi otak yang bentuknya sangat lunak dan terkena ilmu yang tidak ada wujudnya. Kemudian IbnuHajar kembali ke pesantren kyainya dan IbnuHajar berkata kepada kyainya "Saya akan nyantri lagi di pesantren Kyai." Selang 15 tahun kemudian ilmu yang diajarkan kyainya dapat menembus ke dalam otak beliau dan akhirnya IbnuHajarAl-Asyqolani menjadi ulama' yang termasyhur.

    Cerita itulah yang memotivasiku untuk tidak boyong dari PPIMU ini sampai sekarang.

    Waktu 3 tahun menurutku cukup lama. Matahari menghilang dari penglihatan mata lewat sisi barat bumi seakan sudah tidak kuat lagi bersinar. Malam pun menampakkan sayap gelapnya. Setelah shalat Isya' angkatan kami yang 2 hari lagi akan diwisuda dikumpulkan oleh Pak Kyai di dalam kelas. Beliau berpesan, "Jangan lupa tata krama dan adabmu!!!.’’ Beliau mengulangi perkataan itu sebanyak 3 kali. Setelah itu beliau menanyakan 3 pertanyaan kepada setiap santri. Semua pertanyaan beliau kepada setiap santri semuanya sama.

    Semua santri ditanya satu per satu dan sekarang adalah giliranku menjawab pertanyaan PakKyai. Kakiku ku langkahkan ke depan baru saja satu langkah rasanya kaki ini tidak mau bergerak kembali seakan dia sudah meramalkan nanti saat di tanya aku tak dapat menjawab. Dengan niat sebesar biji jagung dan ku sirami dengan keyakinan kemudian biji jagung itu tumbuh besar dan mematahkan ramalan hatiku. Setelah itu aku duduk di depan Pak Kyai. Beliau memulai pertanyaannya dengan menanyakan namaku. "Siapa namamu ?", tanya Pak Kyai

"Nama saya Muhammad Raihan", jawabku.

"Kamu hidup dengan siapa’’, Tanya Pak Kyai.

Aku pun menjawab, "Bapak dan Ibu saya".

"Hhmmm.... Apakah kamu siap terjun ke masyarakat dengan membawa nama PPIMU?", Tanya Pak Kyai.

    Dengan mulut yang tiba-tiba membisu, ku paksakan mulut ini untuk berkata, dengan keringat yang bercucuran akhirnya mulut ini berucap lagi.

"Bismillahirrohmanirrohim Allahu Akbar Insya Allah siap."

Senyum kecil nampak di wajah Pak Kyai. Pertanyaan selanjutnya, "Apakah kamu siap ditunjuk sebagai orang yang paling pintar dan paling tahu semua hukum Islam ketika di masyarakat ?".

"Bismillahirrohmanirrohim Allahu Akbar Insya Allah saya siap dan sesungguhnya tiada yang lebih tahu kecuali Allah SWT."

Dilanjutkan dengan pertanyaan yang terakhir,"Apakah kamu siap dan yakin mampu menjaga hatimu dari sifat sombong dan kamu mampu menjaga tata krama dan adabmu?".

"Bismillahirrohmanirrohim Allahu Akbar Insya Allah siap tetapi saya tidak dapat melakukan semua itu tanpa adanya rahmat serta ridho dari SangMaha Kuasa yaitu Allah SWT’’, jawabku dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.

    Begitu jawabanku yang terakhir, kemudian Pak Kyai mendekatkan wajahnya ke hadapanku dan dia berkata "Subhanallah tidak ada santri yang tadi saya Tanya, menjawab sedemikian rupa. Saya bangga, saya merasa senang ternyata di balik kebodohan seseorang tersimpan kebijaksanaan dan saya melihat dari tatapan matamu ada sebuah kejadian yang membuat dirimu teringat akan semua ilmu yang dulu pernah kamu pelajari di pesantren ini dan semua kenangan yang dulu engkau lupakan wahai anakku’’, ucap Pak Kyai dengan penuh rasa bangga.

    Kemudian Pak Kyai menyuruhku untuk kembali ke tempat duduk dan perkumpulan itu pun di akhiri dengan doa kafaratul majelis. Sesampainya di kamar, aku pun langsung memasang posisi untuk menjelajahi alam mimpi.

    Tapi sebelum tidur aku membaca doa agar aku bisa bangun untuk melakukan sholat tahajud dan di lanjutkan membaca doa sebelum tidur setelah itu aku pun tidur.

    Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 01.40 WIB, akupun terbangun dari tidurku tapi mata ini rasanya sangat berat sekali tetapi ku paksakan bangun dan akhirnya aku pun beranjak dari tempat tidur. Setelah itu aku ganti baju dan mengambil air wudhu kemudian menuju ke masjid untuk melaksanakan solat  tahajud. Ternyata di dalam masjid sudah ada Pak Kyai. Kemudian beliau mendekat dan berkata, "Alhamdulillah yang di tunggu-tunggu sudah tiba, ayo kita melakukan sholat tahajud berjamaah." Kemudian kami pun melaksanakan solat tahajud berjamaah dan dilanjutkan bertawasul lalu berzikir terus berdoa.

    Di dalam do'a PakKyai, aku mendengar sebuah doa yang artinya kalau tidak salah adalah 'wahai yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hatiku kepada agamamu' dan doa itu ditujukan kepadaku. Setelah itu beliau menghadap ke belakang terus besalaman denganku kemudian pergi keluar masjid dan menuju ke asrama untuk membangunkan santri yang tidur agar melakukan kewajiban solat shubuh berjamaah.

    Tak lama kemudian azan subuh segera dikumandangkan setelah itu pujian dan dilanjutkan dengan iqomah. Setelah solat shubuh berjamaah yang di imami oleh Pak Kyai seperti biasa kami semua mengaji Al-Qur'an dan tak sengaja aku mendengar suara tangis yang arahnya dari belakang masjid dan ketika ku lihat ternyata itu Pak Kyai. Selama 6 tahun aku nyantri di PPIMU aku tidak pernah menemui Pak Kyai mencucurkan air mata sambil membaca Al-Qur'an dan seketika itu Pak Kyai menghentikan bacaannya dan tangisannya kemudian beliau mengusap bekas tangisannya tadi dengan sarung yang beliau gunakan setelah itu beliau menoleh ke hadapanku dengan senyum keterpaksaan kemudian beliau melanjutkan membaca Al-Qur'an.

    Setelah itu aku pun menaruh Al-Qur'anku di dalam masjid kemudian aku mengambil tempat duduk di pojokan masjid dan merenungkan apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari ini kenapa Pak Kyai selalu tersenyum apabila melihatku, kenapa?

    Di dalam hatiku bertanya-tanya, di dalam pikiranku pun terheran-heran kemudian aku mengingat-ingat semua hal yang pernah aku lakukan. Ku ingat-ingat kembali dan akhirnya aku tak dapat mengingatnya.

    Waktu terus berjalan tidak terasa besok aku akan diwisuda. Malam ini ku putuskan untuk tidur cepat agar aku dapat bangun pagi-pagi. Setelah solat subuh aku langsung mandi dan berganti pakaian selanjutnya aku pergi untuk gladi bersih.

    Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi semua wali santri dan semua dewan guru telah duduk rapi di depan panggung. Di saat aku duduk di dalam hati ini berdoa semoga acara ini berjalan dengan lancar. Amin…

    Satu per satu anak dipanggil ke atas panggung untuk menerima rapot, ijazah, surat tanda tamat belajar, dan diwisuda. Saat namaku dipanggil maju ke atas panggung hati ini tiba-tiba berdetak kencang keringatku bercucuran kemudian aku berdoa semoga aku lulus dengan nilai yang baik.

    Aku pun maju ke atas panggung dan menerima rapot, ijazah, dan surat tanda tamat belajar yang diberikan langsung oleh Pak Kyai. Seketika itu aku langsung kaget mengapa yang memberikan bukan kepala sekolah malah diberikan langsung oleh Pak Kyai, tapi aku bangga karena aku diwisuda langsung oleh Pak Kyai.

    Setelah itu aku langsung kembali ke tempat duduk di sana aku diberi tahu oleh guru yang sejak dulu waktu PPIMU masih dalam proses pembangunan sampai sekarang ia masih mengajar di sana bahwa jarang sekali hal seperti ini terjadi malah mungkin ini adalah kali pertama hal ini terjadi. Aku bangga dengan kejadian tadi tapi mungkin itu hanya kebetulan saja. Jam terus bergerak dan menunjukkan pukul 10.30 sementara itu acara wisuda tinggal penutup dan doa. Acara wisuda selesai pukul 10.50 Siang.

    Kemudian aku kembali ke kamar untuk menyiapkan barang-barang yang akan ku bawa pulang. Sebelum pulang aku berpamitan kepada Pak Kyai dan Pak Kyai berpesan kepadaku, "Jangan lupa dengan perkumpulan yang kemarin." Aku pun menjawab,"Ya" dengan kepala ku anggukkan. Setelah itu aku pulang ke rumah. Sampai di rumah aku langsung menata barang-barangku ke lemari setelah itu tak sampai 2 jam aku sampai di rumah ada tamu yang mengundangku untuk menjadi pemimpin tahlil di rumahnya nanti malam yang tak jauh dari rumah dan aku langsung menjawab "Insya Allah Pak." Dan tamu itu pulang kemudian aku langsung mengambil air wudhu dan langsung sholat hajat agar acara nanti malam dapat berjalan dengan baik.

    Pada saat memimpin tahlil aku merasa gugup sehingga banyak bacaan yang salah. Setelah tahlilan selesai, aku langsung meminta maaf kepada keluarga yang mengundangku tadi dan mereka pun memaafkannya.

    Kejadian yang sama berulang kali terjadi hampir 5 kali aku di undang untuk memimpin tahlil dan semuanya tidak berjalan dengan lancar karena bacaanku banyak yang salah. Seakan orang-orang yang sudah tahu kalau aku yang memimpin tahlil ini bacaannya banyak yang salah mereka malah tidak kapok dan banyak orang yang mengundangku menjadi pemimpin tahlilan tapi kejadian yang sama tetap saja terjadi.

    Hampir 2 bulan aku di rumah tidak kemana-mana dan hanya diam di rumah tidak ada pekerjaan yang menetap kemudian aku pun merenungkan apa yang terjadi. Ku lanjutkan untuk pergi ke kamar dan ku pandang sebuah kaca tampak wajah polos dengan rambut yang agak berantakan dan ditambah oleh mata yang agak sipit sebelah kemudian aku berbicara pada diriku sendiri. "Aku harus bangkit dari keterpurukan sikapku, aku harus menyalakan api semangat yang telah padam, aku diciptakan bukan untuk diam tetapi tujuan penciptaan diriku ini adalah untuk mensucikannya. Aku bukanlah pemimpin tetapi aku mempunyi jiwa pemimpin, aku harus percaya bahwa rencana Allah itu indah. Ya Allah jika ini adalah ridho-Mu maka ridhoilah. Amin," dengan penuh keyakinan ucapku.

    Pada malam hari ada tamu yang tidak lain adalah ketua Madrasah Diniyah yang berada di desaku dia mengajakku untuk menjadi guru tambahan yang ada di madrasah beliau. Aku pun menerimanya dengan niat yang ikhlas dan semoga Allah meridhoinya. "Kapan saya mulai mengajar Pak ?", tanyaku dengan rasa senang. "Besok siang kamu sudah dapat mengajar", kata beliau. Kemudian beliau pamit untuk pulang ke rumah.

    Siang harinya aku pun pergi untuk mengajar dan aku langsung disuruh untuk mengajar Fiqih dengan nada bicaraku yang lantang dan semangat yang tinggi aku dapat menerangkan beberapa baris tanpa ada perkataanku yang gugup sehingga tidak terjadi banyak kesalahan.

    Malam harinya aku mendapat undangan. Undangan yang ke-6 untuk menjadi pemimpin tahlil dan aku heran pada malam ini bacaan tahlilku lancar dan tidak ada yang salah. Keluarga yang mengundangku pun ikut senang. Dalam undangan yanh lain  menjadi pemimpin tahlil juga sama, tidak ada bacaan tahlil yang salah dan menurut orang-orang yang ikut tahlilan, bacaanku ini sangat fasih. Sesampainya di rumah aku pun bersyukur kepada Allah.

"Alhamdulillah, Subhanallah terima kasih Ya Allah Engkau telah mngabulkan doa dalam renunganku", ucapku dalam hati dengan penuh syukur. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya aku teringat doa Pak Kyai kepadaku saat melakukan sholat tahajud berjamaah dengan beliau.

    Di saat aku mengajar Madrasah Diniyah di desaku aku sering bercerita apa yang diceritakan guruku pada saat nyantri dulu seperti cerita perjuangan orang Islam dari zaman ke zaman, cerita para ulama' terdahulu, cerita para waliyullah, cerita sejarah tanah jawa, dan cerita yang mengarah kepada hal gaib.

    Semua murid senang jika saat pelajaranku, aku di sana mengajar tiga mata pelajaran yaitu Fiqh, Tauhid, dan Sejarah Kebudayaan Islam dengan banyak cerita yang aku ceritakandan hikmah yang ada dalam ceritaku membuat murid-muridku yang mendengarnya bertambah semangat untuk mengaji dan membela agama Allah.

     5 tahun kemudian aku mendirikan Madrasah Diniyah yang lumayan ukurannya yaitu 12×6 m dan terbagi menjadi 3 kelas. Hari pertama setelah pembukaan Madrasah Diniyah anak yang mendaftar menjadi muridku ada 13 anak memang sedikit tapi ini adalah awal yang baik bagiku dan di sini ada 11 mata pelajaran yaitu Fiqh, Tauhid, Nahwu, Shorof, Nisa'iyah, Imlak, Al-Qur'an, Tajwid, TarikhNabi, Akhlak, dan Bahasa Arab.

    Tidak ada guru yang ingin mengajar hanya aku guru satu-satunya yang mengajar. Satu tahun berlalu dengan cepat saatnya pendaftaran murid baru dan Alhamdulillah tahun ini yang mendaftar ada 26 anak dan gurunya bertambah 2 orang mereka adalah murid yang dulu aku ajari di Madrasah Diniyah 6 tahun lalu sebelum aku membangun MadrasahDiniyah sendiri. Rencananya tahun depan akan aku tingkat menjadi 2 tingkat dan memperluas Madrasah Diniyah ini menjadi 24×6 m. Selain mengajar di Madrasah Diniyah aku mempunyai pekerjaan sebagai peternak ikan, ayam serama, ayam kampung, dan petani musiman.

    Keesokan harinya aku berbicara dengan ibuku bahwa aku akan meminta ridlonya dengan cara yang diajarkan guruku saat aku masih nyantri dulu yaitu membasuh kaki ibu dengan air kemudian meminum sisa basuhan kaki ibu tadi dan ibuku mau melakukannya. Saat melakukan acara ini ibuku menangis terisak-isak dan berkata, "Jangan ulangi lagi perbuatan ini, cukup ini saja’’. Setiap basuhan ku puji dan ku junjung apa yang pernah dilakukan ibuku kepadaku dulu saat aku masih dikandungan sampai sekarang. Setelah itu aku meminum air basuhan sedikit demi sedikit dan tidak lama kemudian air itu habis.

Dua hari setelah kejadian itu bapakku kecelakaan karena tertabrak mobil Avanza warna putih, kemudian mobil itu lari dan tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya itu. Kepergian bapak membuat kepedihan yang mendalam bagi keluarga kami dan aku menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya tapi aku ikhlas melakukan itu semua.

    Sudah satu tahun bapakku meninggalkanku. Dua hari lagi aku akan dijodohkan dengan anak tetangga desa yang juga alumni Pondok Mambaul Ulum. Anaknya itu baik, cantik, dan sholehah. Perjodohan ini berjalan dengan baik dan akhirnya kami menjadi halal.

    Sebulan setelah menikah kami pun membeli rumah. Tidak terlalu besar tapi dapat dibuat berlindung dari terik matahari, hujan, dan dinginnya angin malam. Ukuran rumah kami sekitar 12×8 m dan rumah ini jauh lebih baik dari rumah yang dulu. Kemudian rumah yang dulu kami jual untuk menambah modal membeli rumah.

    Belum genap 1 bulan aku, istriku, dan ibuku menempati rumah itu. Musibah menimpa kepadaku. Ibuku terkena tembakan yang meleset dari salah satu anggota Brimob yang sedang latihan kemudian ku bawa ibu ke rumah sakit tetapi nyawanya tidak tertolong dan akhirnya beliau meninggal. Sebelum meninggal beliau berpesan agar dimakamkan di pinggir makam bapak.

    Kepedihan yang mendalam menyelimuti hatiku setelah kepergian bapakku kemudian disusul kepergian ibuku. Belum sempat aku membahagiakan kedua orang tuaku tetapi mereka sudah tiada. Aku berusaha ikhlas dan sabar, mungkin Allah menghendaki semua ini untuk mencoba seberapa besar keimanan dan kesabaranku.

    Delapan bulan kemudian lahirlah sepasang insan yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dan Alhamdulillah kedua insan itu lahir dengan selamat dan tiada cacat tetapi keadaan ibu mereka sangat kritis dan akhirnya nyawanya tidak dapat diselamatkan.

    Sebelum meninggal beliau memberi nama kepada kedua insan tersebut. Yang laki-laki ia beri nama Ahmad Wisnu Al-Fatih dan yang perempuan bernama Siti Zahra Ar-Rahmah. Di dalam hatiku berkata "Kasihan sekali kedua insan ini belum sempat melihat wajah ibunya sudah ditinggal pergi menghadap SangIllahi. Dan aku juga kasihan pada istriku belum sempatmelihat kedua insan ini tumbuh besar."

    Sejak kecil mereka ku didik hidup mandiri dengan tata krama dan adab. Dan ku ajari pula apa itu Iman, Islam, dan Ikhsan.  Tidak lupa pula mereka ku ceritakan tentang cerita yang mengandung banyak hikmah seperti yang aku ceritakan pada murid-muridku dari dulu sampai sekarang.

    Mereka berdua tumbuh dengan cepat dan tidak terasa mereka sudah berumur 12 tahun. Dan waktunya mereka melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat SMP. Tetapi aku bingung mau mendaftarkan mereka ke mana?

    Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan bapak, ibu, dan istriku kemudian mereka berpesan agar kedua anak itu mondok dan bersekolah di Mamba'ul Ulum. Keesokan harinya mereka berdua ku ajak ke Mamba'ul Ulum dan ku perkenalkan kepada Pak Kyai.

    Setelah 19 tahun tidak bertemu ternyata beliau masih ingat dengan saya dan beliau bertanya, "Siapa kedua anak ini ?".

"Kedua anak ini adalah anak saya", jawabku.

"Mana ibunya ?", tanya Pak Kyai. "Ibu mereka sudah dipanggil saat selesai melahirkan kedua anak ini."

    Percakapan antara Pak Kyai dan aku hampir 3 jam. Kemudian Pak Kyai menerima kedua anakku sebagai santri dan muridnya di Pondok Pesantren Induk Mamba'ul Ulum.

    Dua tahun kemudian aku mendirikan panti asuhan dan sekarang masih dalam masa pembangunan. Semua yang ku lakukan semata-mata hanya untuk mendapat ridho Illahi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment