PENJARA SUCI IMPIAN
Amira Wardatul. J. IX A

By Administrator 23 Jan 2019, 09:49:45 WIB Tulisan Siswa

PENJARA SUCI IMPIAN

(Amira Wardatul. J. IX A)

 

Air bersinar terkena sinar mentari. Ikan berenang di laut yang luas. Terumbu karang berwarna terang, menghias laut begitu indah. Aku ingin bebas seperti ikan di laut. Namun, ikan di laut lepas pernah mengalami ujian. Seperti kita, selalu ada ujian hidup.  Namaku Trisyah Kamilia Putri, panggilanku  Mila. Ujianku sekarang adalah masuk ke pesantren. Aku masuk pesantren itu karena paksaan orang tuaku. Aku mengeluh kepada orang tuaku karena paksaan itu. “Apakah ibu dan ayah tidak sayang Aku lagi. Apakah Aku nakal kepada ibu,” itu keluhku.  “Tidak Nak ini untuk kebaikanmu,” itu jawaban mereka.  Aku dilahirkan untuk kebahagian orang tuaku,  jadi Aku harus menuruti apa yang Beliau inginkan.   Akhirnya Aku masuk ke pesantren.

Mentari tersenyum meriah. Burung sedang berkicau. Aku pergi dari rumah. Hatiku sangat kacau. Ini pertama kumasuk pesantren, Aku sudah membereskan kemarin. Aku sangat sedih meninggalkan kedua orang tuaku. Aku adalah anak tunggal. Pertamaku masuk pesantren, terasa sangat sepi. Tidak ada orang yang mengajak kubicara. Aku menyendiri tanpa teman. Di sana Aku terlihat sangat polos, tanpa teman. Hari berganti hari, dan akhirnya ujian datang. Aku bersih keras untuk belajar agar mendapatkan teman.

Di sana Aku mendapatkan peringkat kedua dalam ujian pondok.  Mendapatkan peringkat pertama di ujian sekolah. Itu semua karena aku ingin punya teman di sana. Karena Aku dapat peringkat yang bagus. Akhirnya Aku mendapatkan tiga teman. Tapi Mereka hanya memanfaatkan Aku, itu karena kepintaranku. Itupun terus berlanjut. Mereka juga memanfaatkan uangku. Aku terus dipaksa mereka. Aku pun sangat marah atas perilaku Mereka. Akhirnya Aku telah memutuskan untuk kabur dan pergi menuju ke rumah nenek.  Rumah nenek pun tidak terlalu jauh dari sini. Sekitar 15 m dari pesantren.

Aku terus berusaha untuk kabur dan akhirnya. Aku dapat kabur.  Aku terus berlari menuju rumah Nenek. Setelah berjalan jauh, akhirnya Aku sampai ke rumah Nenek. Nenekdan Kakek terkejut melihatku. “Milaa, dengan siapa kamu datang? Bukankah kamu adadi pesantren?,”  ujar Nenek. “Maaf Nek, Aku kabur dari sana,” ujarku dengan rasa takut. “Kenapa Nak? Sini duduk di samping Nenek,” ujar Nenek lagi.

“Maaf  Nek, Aku tidak suka tinggal sendirian di sana,’’ ujar Mila.  ‘’Ternyata iya, pertama kumasuk di sana Aku tidak punya teman.  Kemudian Aku berusaha untuk mempunyai teman, tapi Aku mempunyai teman yang menghianatiku,” ujarku dengan menangis. “Semua manusia pasti ada cobaanya Nak. Jadi jangan pernah mengeluh.  Udah kamu pergi aja ke kamar dan beristirahat, NenekdanKakek yang akan membereskanya,”  Ujar nenek lembut.

Akhirnya Nenek dan  Kakek menelpon orang tuaku. Tidak lama kemudian, orang tuaku datang ke  rumah Nenek untuk mengajakku  kembali ke pesantren. Tenyata, Nabila dan Lia teman sekelasku melihat Aku kabur dari pesantren. Mereka  mengadu kepada ustadza Nirma. Saat Aku kembali dari pesantren, ustadza Nirma menghampiriku. Kemudian orang tuaku meninggalkanku lagi sendirian di pesantren. Lalu utadza Nirma menyuruhku ke dalam.

“Mila, kenapa Kamu kabur dari pesantren?,” kata ustadza Nirma. “Mila mempunyai tiga teman, tapi teman Mila sungguh kejam.. Mereka hanya memanfaatkan Mila. Karena Mila adalah anak terpandai di kelas,” saut Nabila. “Siapa teman Mila itu?,” ujar ustadza Nirma. “Vina, Mia, dan Rian,” ujar Lia. “Cepat panggil mereka bertiga,” ujar ustazda Nirma lagi. “Mila, karena Kamu kabur dari sini kamu Saya hokum menulis surat Yasin 2 kali,”  kata ustadza Nirma. “Iya ustadza,” jawabku.

Tidak lama lagi Vina, Mia, dan Rian datang. Ustadza Nirma member hukuman. Hukuman itu adalah membersihkan kamar mandi selama satu minggu dan menulis surat Yasin 4 kali. Mereka bertiga meminta maaf kepadaku. Aku pun memaafkan Merekadan Aku berterima kasihkepada Nabila dan Lia. Akhirnya Kami menjadi sahabat. Aku sangat senang dengan ini. Aku tidak akan mengecewakan pesantren ini lagi. PESANTREN IMPIANKU. Dan kitaberenam menorehkan untaian indah yang berjudul

 

MERAIH IMPIAN

Di kala malam menyelimuti

Bulan memandang bumi

Air jernih di laut yang luas

Sebuah suara terdengar di telinga

Menambah kesyahduan

Meraih impian bersama sang karib

Mencoba menorehkan kenangan indah

Yang selamanya tak terlupakan

Hanya di tempat yang dirahmati Ilahi

Kami temukan hakikat hidup

Indah senang yang kami rasa

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment