RAJAWALI BESURBAN
Amalia Nuro An Nisa’ X IPA

By Administrator 23 Jan 2019, 09:50:56 WIB Tulisan Siswa

RAJAWALI BESURBAN

(Amalia Nuro An Nisa’ X IPA)

 

Hembusan angin mengantarkan hentakan suara yang melafadzkan bait-bait nadhom nahwu, mengetuk segala penjuru pesantren. Kubolak-balikkan  kitab yang dulu pernah  ku kaji sampai khatam, tapi pikiranku pergi berkelana aku dilanda kegalauan memutuskan apa yang aku lakukan nanti setelah wisuda menjemput sebulan ke depan.

Bintang telah lama bergelantung di dinding cakrawala. Mataku masih enggan terpejam, aku gusar memikirkan amanah Kyai Istamar tadi sore untuk menghabiskan waktu free alias senggang satu bulan ke depan dengan mengamalkan makna titah ”Chubbul Wathonuminal Iman“ Cinta tanah air sebagian dari iman. Sebenarnya bukan aku saja yang tertimpa amanah super dahsyat ini, tapi juga semua kawanku yang level pendidikan sejajar denganku, bahkan setelah bubar mereka sibuk menyatakan pendapat, tapi otakku mengatakan suatu hal yang merisaukan hati bahwa ada makna tersembunyi di balik ini.

Udara dingin merembes sampai tulang-tulangku. Kujejali pasar yang bersekat-sekat sambil menenteng sayur – sayuran untuk dimasak pondok. ”Akhi lihat itu!,” seru Irfan yang sedari tadi di sampingku. Mata kami tertuju pada penjual koran yang sedang mencerocos tak karuan, kubuntuti Irfan dengan sigap menuju penjual koran. Kujamah koran berita hari ini.

 Mataku terbelalak, “Gunung Tapak Lima meletus, kekurangan relawan, belum ada tanggapan serius dari pemerintah,’’ bacaku lirih. Aliran darahku mengalir deras seperti tersengat listrik ke penjuru tubuhku. “Inna lillahi wainna ilaihi roji’un,“ ucapku spontan bersamaan dengan Irfan. Hatiku miris mengingat di tanah itulah aku dulu pernah belajar mengaji. Kutukar koran itu dengan beberapa lembar uang dengan akad yang sah. Kubaca berkali-kali koran  itu dan alhasil tumbuh semangat terbakar untuk ikut menjadi relawan.

“Apa, antum mau pergi ke gunung Tapak Lima?,” tanya Hasyim. ‘’Ya”, jawabku lirih. ”Kamu kira di sana gak ada apa-apa? Di sana bahaya, gunung itu dalam keadaan gawat akhi!,” kubangkitkan tubuhku menghadap Hasyim. “Ini lebih gawat jika membiarkan saudara kita menderita tanpa kita tolong, lalu apa yang akan aku katakan nanti pada Allah di hari pertanggung jawaban, aku ingin memenuhi amanah Kyai Istamar di pencarian ini!,” seruku dengan penuh kekesalan. Kutinggalkan Hasyim begitu saja, sahabatku yang menundukkan kepala.

Kali ini harus kupaksakan diriku untuk berani sowan minta izin pada Kyai. Hening yang membekas setelah menghadap Kyai Istamar yang memberi izin. Entah seperti dikirim energi menyejukkan yang memperbesar nyali dan semangat setiap setelah bertatap muka dengan Kyai. ‘’Kutinggalkan pesantren sebentar saja,’’ pamitku lirih.

Telah dua hari dua malam kutempuh dengan jalan kaki. Akhirnya  kamp-kamp pengungsian terbit juga. Awalnya mereka meremehkan kemampuanku karena aku berasal dari pesantren, namun setelah aku meyakinkan, panitia itu mau menerimaku. Aku ditempatkan di dapur umum. Kuamalkan apa yang pernah setiap hari kulakukan di pesantren.

               Kondisi di sini sangat menyedihkan  hingga setiap malam otot ototku yang meraung-raung kecapean, teriring melankolis tangisan sendu para korban. Ada rasa syukur yang merasuk dalam jiwaku karena Allah mengizinkanku berada di sini. Mendengarkan isak tangis yang penuh hikmah yang selalu berelasi dengan utawi iki iku fasal yang pernah kukaji. Tapi semua hal tak selalu berjalan lancar, ada juga batu di tengah jalan, pernah kudapati beberapa orang melaksanakan solat berjamaah bersama yang mendapat protes dari orang Kristen gunung lantaran memakan banyak tempat. Berbekal ilmu yang kumiliki, kuberi pengertian dengan takzim dan permintaan maaf tentunya. Ada rasa bahagia, sedih, nyaman, syukur atas keberadaanku di sini. Berminggu-minggu kulewati tiga hari lagi aku diwisuda. Kubereskan segala barang-barangku ke dalam tas.

             “Kamu mau balik ke pesantren ya?,“ tanya Aril yang dulu pernah meragukan kemampuanku. “Tolong dengarkan aku! ini sangat penting, sebelumnya aku minta maaf atas segala penilaianku padamu, tadi subuh aku,  Andi, dan Firman melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahunan ia berlari ke arah kawasan berbahaya dan kau lihatkan keadaanku (sambil menunjukkan lengannya yang terbalut perban), Firman dan Andi cidera. ‘’Kami tak bisa apa-apa dan teman-teman lain tentu sangat sibuk serta relawan pun juga begitu, sedangkan bantuan datang tiga hari lagi, maukah kau pergi mengevakuasinya ?,” seru Aril dengan mata berkaca-kaca yang hampir tumpah. Aku kesal, bimbang, sedih. Kutinggalkan Aril begitu saja. Kubenamkan wajahku dalam-dalam di antara kedua lengan tanganku.

Aku tak bisa  merasakan tubuhku. Di mana letak keberadaanku, sosok laki-laki tua menghampiriku, wajahnya berkerut-kerut menunjukkan udzur, lamat-lamat kuperhatikan sosok yang sangat kukenal. Kyai Istamar berpesan, “Nak teruskan perjalanan ini sedikit saja, ingatkah kamu pada fasal kitab yang pernah kau kaji di rumahku, apakah kau tak ingat pada santri-santri dulu yang mengorbankan nyawa demi jayanya merah putih, lalu apa yang kau lakukan sebagai santri saat ini untuk Indonesia? jadilah rajawali Indonesia. Demi generasi Indonesia nak, bawalah panji panji islam  dengan bekal utawi iki iku fasal yang pernah kau kaji. Percayalah Allah membela orang-orang yang berjalan di jalannya!.”

Aku terjungkal ternyata mimpi. Tapi tubuhku terkena sengatan listrik semangat yang menyejukkan. Kuhampiri Aril yang susah payah mengupas wortel dengan tangannya. “Aku akan pergi, doakan aku!,” seruku.

Ku larikan tubuhku menembus kepulan abu vulkanik, desa-desa kujejali, lahar dingin mengalir di setiap mata air sampai aku harus tayammum. Vulkanik semakin deras menghujan. Setelah dua hari dua malam kutemukan sosok anak laki-laki yang kucari. Kini ia berdiri membelakangiku, tubuhnya menghadap terasering nun jauh di sana. “Hei, ayo pulang !,” teriakku yang mencoba menghampirinya, ia memutar kepalanya 180 derajat. “Aku ingin melihat Indonesia dari sini, aku tak punya siapa-siapa selain Indonesia,” serunya dengan mata bersimbah air mata. Kudekati tubuhnya. ‘’Brakk…,’’ tubuhnya ambruk terperosok ke jurang, kutarik tangannya yang masih dapat kugapai.

Perlahan tubuhku terseret karena tak kuat menahan beban berat, ada rasa panas, perih, dan bercampur bau anyir di sekitar lengan yang tergesek batu.   Kupejamkan mataku sejenak, suara Kyai Istamar berdengung lagi di kepalaku, “Chubbul watonu minal iman, jadilah rajawali Indonesia bersurban.’’ ”Allahu akbar !,” teriakku lantang. Sekuat tenaga kutarik tubuh anak itu dan kubaringkan tubuhnya di atas tanah. Aku bingung, apa yang selanjutnya aku lakukan. Senyap-senyap terdengar raungan mesin, daun-daun kering mulai beterbangan berpadu dengan lapisan vulkanik yang tergerak angin, ini tanda-tanda. Kuraih ranting panjang dan kukaitkan baju yang berlogo pesantren. Kukibarkan dilangit, perlahan helikopter evakuasi terpancing dan mengevakuasi serta anak laki – laki itu. Tubuhnya mulai membiru efek dari terlalu bebas menghirup vulkanik beracun. Ku pandangi bentangan gunung Indonesia, kurasakan darahku berdesir menyatu pada Indonesia.

Segera setelah para relawan yang bertambah jumlahnya mengecek kondisi anak laki-laki itu dengan medis. Aku menangkap sosok yang sangat lekat kukenal yang turun dari kemudi  helikopter. Merasa diperhatikan ia mendekatiku “Assalamualaikum,“ sapanya.  “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,’’ jawabku dengan menyunggingkan sedikit senyum. Ia mulai membuka percakapan lagi. “Dari pesantren Bahrul Ulum ya ?,” tanyanya ragu-ragu sambil mengamati baju logo pesantrenku tadi yang tengah kudekap. “ Iya,”  jawabku bangga. Lamat-lamat ia memperhatikanku dengan saksama. “Antum, Faqih ya ?,’’ tanyanya di tidak kepastian. “Ya”, jawabku heran. “Masya Allah ini saya Zidan, senior antum angkatan  Al faruq yang pernah antum ingatkan ketika saya memukul santri baru.’’ Kupeluk dia, setelah melepaskan pelukan ditanyakannya suatu hal yang mengguncang hatiku.

”Ngomong-ngomong bukannya tepat hari ini Antum wisuda ya, kok masih ada di sini?,” kukuatkan diriku menahan kesal dan sedih. “Iya toh, saya di sini juga punya misi penting. Evakuasi anak tadi, jadi terpaksa saya gak ikut meski ini risikonya berat,” seruku mencoba tabah.  “Subhanallah Al-akh mulia sekali,”  pujinya. Ia termenung sejenak, lalu kembali membawa pertanyaan dahsyat.

 “Bagaimana kalau Al-akh sekarang balik ke pondok, saya antarkan pake helikopter,” tawarnya ada secercah harapan yang menjemput. ‘’Afwan tapi bukannya helikopter untuk fasilitas korban, jadi saya nggak ada hak memakainya  untuk kepentingan pribadi, lagian jarak pondok ke sini 2 hari 2 malam jalan kaki”, jawabku sesopan mungkin . Ia tersenyum, “Bukan, ini milik saya pribadi, lagian ada 5 helikopter lain. Jadi, kalau kita pergi, masih ada yang ganti’in dan inikan helikopter. Jadi, dari sini ke pesantren hanya satu jam.” Aril, Andi, dan Firman tiba-tiba muncul. “Iya mas, ini kesempatan hadiah buat mas, mas gak kepingin wisuda ya?”, timpal Firman. Aku tak bisa menolak pertolongan Al-akh Zidan.

Separuh acara telah berjalan ketika helikopter Al-akh Zidan datang. Alangkah bahagia ketika penerimaan ijazah, Kyai mengalungkan sorban yang dipakainya keleherku sambil tersenyum penuh arti.

 

          

          Telah terbaca tanda-tanda dari tuhan

          Lewat kaca mata tafakkurku

          Menjejaki mata angin takdir

          Bersama dua tarik garis sejajar

          Memiliki relasi kuat

          Saat kumulai terjunku nanti

          Takkan kulupa fasal agama

          Menyeru cinta pada tumpah darah

          Terjun pergi terbang mengabdikan diri

          Dari pesantren untuk Indonesia




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment