SANG SURYA YANG BERSINGGAH
Ana Puspita Sari IX A

By Administrator 23 Jan 2019, 09:52:30 WIB Tulisan Siswa

SANG SURYA YANG BERSINGGAH

(Ana Puspita Sari IX A)

 

Sang surya masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Udara malam  masih terasa menyengat di kulit, embun pagi masih menetes di  sela-sela dedaunan. Terdengar suara azan di tengah lelapnya tidurku dan membuatku terbangun dari mimpi.

”Huh,, sudah pukul 04.30 ternyata, mandi dulu deh baru bangunin mereka,” kataku sambil mengusap kening. Setelah mandi aku membangunkan sahabatku, namanya Alfin dan Aje, ”Qum-qum ya Akhi!.”

“Sebentar… 5 menit lagi !,“ sahut Alfin sambil memalingkan badan. Aku mencoba untuk membangunkan mereka untuk yang kedua kalinya, ”Qum-qum ya Akhi!.

Mereka langsung bangun dan mandi. Setelah mereka mandi kita langsung melaksanakan solat subuh berjamaah. Kali ini Aje lah yang mengimami Aku dan Alfin. Pada saat zikir Aje salah membaca bacaannya dan hampir membuat kami tertawa. Sebelum kami tertawa Aje segera membetulkan bacaannya.

Pagi mulai menyapa dengan hangatnya sinar mentari pagi yang menghangatkan kulit. Hari ini adalah hari kedua kami di pesantren setelah libur panjang. Rasanya aku masih sangat merindukan sahabatku kecuali Aje, karena kami masih tetangga dekat. Untuk mengobati rasa rindu kami, kami bercerita banyak hal selama 2 hari ini terutama tentang liburan kemarin. Alfin bilang ia dan keluarganya pergi ke Yogyakarta selama 1 minggu. Ia membelikan kami oleh-oleh berupa kaos bergambar andong dan juga gantungan kunci berbentuk becak. Sedangkan Aku dan Aje rekreasi bersama ke Bali, kami juga membelikan kaos dan ikat kepala khas Bali untuk Alfin. Kami bercerita dan bercanda, sampai-sampai kami tidak sadar kalau hari mulai gelap. Para santri masih banyak yang belum kembali ke pesantren, jadi rutinitas dan peraturan pesantren belum aktif seperti biasanya. Kini sudah 1 minggu kami berada di pesantren  setelah liburan. Rutinitas dan peraturan di pesantren mulai aktif kembali seperti biasanya, walaupun ada sedikit perubahan dalam peraturan di pesantren.

Sekarang kami harus bangun lebih pagi dari biasanya,karena kami harus mandi duluan. Setelah itu kami harus membantu kak Zaka untuk mempersiapkan pengeras suara untuk azan. Sekarang kami bukan lagi santri junior tetapi sudah menjadi santri senior. Kami mendapat beberapa tambahan tugas,contohnya saja kami mendapat tugas untuk menjadi marbot masjid. Setelah semua selesai dipersiapkan, kak Zaka mulai tarkhim. Sambil menunggu azan subuh, aku dan Alfin disuruh kak Zaka untuk membantu ustadz membangunkan santri junior sedangkan Aje menemani kak Zaka di masjid sambil membaca Al Qur’an. Setelah kami membangunkan santri junior,kami segera kembali ke masjid untuk solat subuh. Sesampainya dimasjid ternyata solat jama’ah sudah selesai, jadi kami memutuskan untuk solat jamaah berdua, Alfin jadi imam sedangkan aku jadi makmum. Setelah sholat aku dan Alfin ketiduran di masjid. Sedangkan Aje melanjutkan membaca Al Qur’an sambil menunggu pukul 05.30. Saat pukul 05.30 Aje segera membangunkan kita dan kami cuci muka agar segera kembali ke asrama untuk ganti seragam sekolah dan mengambil buku.

Kami berangkat menuju kelas sambil membawa buku dan sesampainya di sana, Kami meletakkan buku di laci dan pergi ke masjid untuk solat dhuha. Kami hampir tidak pernah membawa tas saat pergi sekolah karena kelas kami cukup dekat dari asrama. Bel masuk kelas telah berbunyi dan seluruh siswa masuk kelas masing-masing. Kami berada di kelas yang sama yaitu kelas 9A. Di antara kami bertiga, Aje lah yang paling pandai dalam mapel IPA,MTK, dan untungnya dia tidak sombong seperti temanku yang lain. Alfin paling cepat menghafal sesuatu tapi sayangnya, ia sangat jail dan suka berperilaku konyol. Kalau Aku paling pandai berbahasa Inggris dan Arab tapi jika dibandingkan dengan teman sekelas, Aku mah nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Hari ini rasanya Aku lagi malas banget ikut pelajaran, karena materinya yang membosankan dan kurang menarik. Jadi, Aku memutuskan untuk tidur, tiba-tiba ada yang memercikkan air kewajahku. ”Aduh… jangan ganggu..!, timpalku. Kukira itu tadi Alfin. Ustad kembali memercikkan air untuk yang kedua kali sambil berkata, “Cepat bangun, kalo tidak kamu saya absen alfa selama mapel saya!.”

“Iya ustad, jangan dialfa, saya akan bangun”, sahutku dengan nada terkejut karena ternyata itu Ustad, bukan Alfin.

“Lain kali jangan tidur saat mata pelajaran saya,,,mengerti !!!”, bentak Ustad. “Mengerti Ustad”, jawabku. Ustad kembali menjelaskan dan tiba-tiba Alfin berbisik. “Nanti pulang sekolah ikut aku ke kelas B, OK !.” “Ngapain?,“ sahutku. “Nanti kalau istirahat aku jelasin,“ pinta Alfin. “Ya deh,,Aje gimana udah tahu belum ?,” tanyaku sambil bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. “Udah”, timpal Alfin sambil memalingkan badan.

Bel istirahat telah berbunyi, kami bertiga kembali ke asrama untuk mengambil jatah makan. Di pesantren kami diberi jatah makan 2x sehari, yaitu pagi pukul 10.00 dan sore pukul 16.00. Kami dapat mengambil jatah makan di luar jam tersebut, misalnya waktu kita mau pergi diniyah ataupun pulang sekolah. Setelah makan Alfin menjelaskan pada kami kenapa ia mengajak kita pergi ke kelas 9B.

“Jadi gini, Aku kemarin ngajakin Cintia untuk ketemuan di kelasnya hari ini,” kata Alfin. “Dia mau ngak kamu ajak ketemuan ?,”  tanya Aje sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. “Cintia yang juara kaligrafi itu ya ?,” dugaanku sambil mencomot lauk milik Alfin.

“Iya,tentu saja ia mau,dengan wajah tampan dan cool yang ku miliki masak ia ngak mau sih..,” Alfin mulai sedikit menyombongkan dirinya. “Mulai deh,,kePDannya…,’’ sahutku sambil memalingkan wajah. “Emangnya,,kamu masih suka sama Cintia ?,” timpal Aje yang mulai masang tampang serius, yang sama sekali tak cocok dengan tampang konyolnya. Dengan nada yang malu malu alfin menjawab, “Kalo iya kenapa ?.” “Kukira udah ngak suka..,” sahutku dengan mulut penuh makanan. “Kalo udah ketemu kamu mau bilang apa?,” sahut Aje sambil mengangkat tubuhnya untuk mengembalikan piring kami. Dengan nada yang super PD, Alfin menjawab tanpa ragu, “Tentu saja nembak dia jadi pacarku.”

“Kamu beneran udah siap buat nyatain cinta ke Dia ?,” tanyaku. Alfin tidak menjawab dan Aje mengajak kita untuk kembali ke kelas, “Kita udah selesaikan? kalo udah ayo balik ke kelas!.”

Bel masukpun berbunyi, kali ini kelasku jam pelajaran ke 5-6 juga jam terakhir jam kos (jam kosong).Yang pertama karena gurunya ngak masuk karena sakit sedangkan jam terakhir gurunya sedang rapat. Jadi, kita bebas ngapain aja asalkan tidak terlalu ramai. Bel pulang pun berbunyi.  Sebelum pulang para siswa solat duhur berjamaah terlebih dahulu, lalu pulang ke rumah masing-masing dan kembali ke asrama. Setelah solat kami menunggu Cintia di kelas B. “Fin,,itu Cintia ..,” kata Aje. Lalu Alfin memanggil Cintia menggunakan kode. “Kenapa kamu ngajak aku ketemuan di sini ?,” Cintia bertanya dengan nada heran. “Sebenarnya Aku mau nyampaiin sesuatu ke kamu,” ucap Alfin dengan nada gugup.

“Nyampaikan apa?,“ sahut Cintia yang mulai penasaran. Alfin mulai menyampaikan niatnya dengan nada yang sedikit gemetar, “Sebenarnya diam-diam Aku sering curi pandang ke kamu, aku juga suka lihat senyummu,,Aku suka sama kamu,,kamu mau ngak jadi pacarku?,’’

Cintia terdiam cukup lama sampai ia mengatakan dengan malu-malu isi perasaannya, “Sebenarnya aku juga suka sama kamu, aku juga sering curi pandang ke kamu,,aku mau kok jadi pacar kamu.” “Cie,,,cie…Kalian sekarang kan sudah resmi pacaran,,jadi jangan lupa PJnya (pajak jadian) donk !!,” timpal kami sambil bersorak. “Apaan sih Kalian,,ya PJnya besok OK,“ sahut Alfin dengan nada sedikit kesal tapi dengan pipi merona.

Semenjak hari itu, Aku dan Aje jadi sering nganterin Alfin ketemuan sama Cintia saat pulang sekolah bahkan saat istirahat Diniyah. Untung saja ada Aje, jadi aku nggak merasa kayak obat nyamuk. Karena mereka sering bertemu diam-diam, itu membuat santri yang lain jadi curiga. Hingga suatu ketika saat kami menemani Alfin, ada salah satu santri yang mengintip lalu melaporkan kami ke ustad. Mungkin hari itu kami masih beruntung karena ustad tidak percaya dengan laporan itu karena  kurangnya bukti.

Beberapa hari kemudian, Alfin minta tolong pada Kami supaya dibuatkan surat cinta untuk Cintia. Pada saat Kita pergi ke caffetaria tanpa sengaja Alfin menjatuhkan surat itu. Saat Alfin menyadari bahwa surat itu hilang, Kami langsung mencarinya dengan panik. Tapi Kami sudah terlambat,karena surat itu sudah ditemukan oleh kakak kelas dan ia berikan kepada Ustad. Oleh Ustad surat itu dibacakan melalui pengeras suara dan menyuruh pemilik surat itu ke kantor Madin. Untung saja surat itu tidak ada nama penerimanya. Jadi, Cintia tidak terlibat dalam masalah ini. Kami langsung menuju kantor setelah panggilan itu.

“Assalamualaikum”, salam kami dengan menundukkan kepala karena takut. “Waalaikumsalam,siapa diantara kalian pemilik surat ini?”,tanya ustad sambil menyuruh kita untuk duduk. “Saya Ustad,” Alfin mengaku langsung tanpa membela diri. “Berani juga kamu Alfin langsung mengaku“, sahut ustad dengan nada tinggi. “Bukan Alfin, tapi saya pemilik surat itu,“ sahut Ridho. “Oh,,Kamu juga Ridho,,pantas bahasanya tinggi,“ kata Ustad. “Bukan Mereka,tapi Saya ustad,“ sahutAje.

“Ohh,,Saya mengerti, saat ini Kalian sedang menutupi kesalahan teman kalian,,katakan yang sebenarnya kalo tidak,kalian akan Saya skors,“ ancam Ustad dengan mata melotot. Saya akan ceritakan yang sebenarnya, ‘’Saya dan Ridho yang membuat surat itu dan Alfinlah yang minta dibuatkan untuk diberikan pada pacarnya.’’ Aje memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya karena dia tidak ingin kami diskros.

“Apa benar Alfin ?,” desak Ustad. Alfin hanya terdiam. “Saya tahu kalian itu teman dekat,kalian boleh kompak tapi bukan dalam hal seperti ini, sebagai hukumannya besok Kalian sudah harus dibotak,”  pinta Ustad dengan tegas. Kami tidak bisa menolak karena kami memang bersalah. Keesokan harinya matahari tidak hanya satu tapi 4. Kami dibotak sampai membuat para kutu silau. Jika ada kutu yang hinggap di  kepala kita, pasti mereka akan tergelincir. Setelah hari itu, kami tidak lagi berhubungan dengan Cintia. Kami hanya sekedar berteman. Kami juga membuat puisi tentang penyesalan kami.

Banyak hal baru di dunia ini

Dan kami tergiur untuk mencobanya

Telah kami langgar berbagai larangan

Hanya untuk menjajali hal baru

Yang hanya membawa kesenangan belaka

Tanpa sadar kami terperangkap bujuk rayu setan

Kami sesali semua itu setelah mahkota kami berguguran

Dan membuat kami sadar akan arti kehidupan

Sekarang kami tidak lagi bermain cinta saat kami masih menjadi pelajar. Kami sadar perjalanan hidup kami masih panjang. Kami masih membutuhkan banyak pengetahuan untuk menghadapi masa depan. Kami memutuskan untuk lebih tekun belajar dan membuat banyak prestasi. Agar kami bisa membuat orang tua kami bangga. Bukan hanya itu, kami akan terus berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, agar berguna di masa yang akan datang.

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment